Taman Lumut (Bryophyta) Cibodas, yang merupakan bagian dari Kebun Raya Cibodas (KRC), yang berada di Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Jabar), dan merupakan satu-satunya taman lumut di luar ruangan (out door) Selasa (11/04), diresmikan oleh istri Kepala LIPI Ny Umar Anggara Jenie.
Kepala Balai Konservasi Tumbuhan KRC. Ir Holif Immamudin disela-sela peresmian taman lumut yang luasnya baru 1.500 meter persegi, dan rencananya taman itu akan diperluas menjadi 2.500 meter persegi, yang terhampar di antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango menjelaskan bahwa apa yang ada di KRC itu adalah yang terbesar di dunia.
“Dengan keanekaragaman hayati berupa taman lumut di luar ruangan yang terbesar di dunia ini, maka Indonesia akan dikenal dunia sebagai negara yang punya keseriusan dalam pengembangan konservasi tumbuhan,” katanya.

Menurut dia, di Jerman dan di Singapura memang ada taman lumut juga, tapi berada di rumah kaca, dan koleksinya cuma tujuh spesies, sedangkan taman lumut di Jepang pun cuma memiliki sekitar 10 spesies.
Ia mengemukakan bahwa Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, karena dari sekitar 3.000 jenis lumut dunia, separuhnya ada di Indonesia. “Dari jumlah itu, sekitar 250 jenis terdapat di kawasan Kebun Raya Cibodas,” tambahnya.
Sayangnya, kata dia, salah satu keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia itu, kondisinya masih terabaikan, dan belum dimanfaatkan secara maksimum. “Padahal, lumut mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia,” katanya.
Beberapa manfaat dari tanaman lumut tersebut, kata dia, selain menjaga kelembapan udara dan porositas tanah, lumut juga berfungsi sebagai pengikat air.
Malahan, lumut marga Usnea mempunyai potensi untuk obat-obatan dalam bentuk jamu atau godokan, sedangkan lumut dari marga Spaghnum sudah lama dikenal sebagai pengganti kapas, obat penyakit kulit, dan obat penyakit mata, serta sebagai media tumbuhnya anggrek. Sementara lumut dari marga marchantia digunakan sebagai obat penyakit hepatitis.
Hanya saja, kata dia, Untuk jenis lumut yang sudah atau belum dikenal sebagai obat-obatan memang harus diuji secara klinis terlebih dahulu.
Ditambahkannya bahwa taman lumut yang tengah dibangun di KRC berlokasi di wilayah I vak I.B dengan kondisi tanah miring, datar, berair (agak becek), ternaungi dan terbuka, dimana luas lahan yang dibuka dan digarap untuk pembuatan taman lumut ini mencapai 2.500 meter persegi.
Dijelaskannya bahwa pembuatan taman lumut menggunakan desain cultivated landscape, yakni pembentukan terasering atau petak-petak.
Posisinya yang strategis, memudahkan para pengunjung mudah untuk melihatnya karena lokasi taman lumut itu jaraknya hanya sekitar 600 meter dari pintu gerbang KRC, dan bisa ditempuh melalui “Taman Rhododendron” dan jalan aspal menuju Curug Cibogo.
Sementara itu, menurut Bian Tan, Koordinator Program Asia Tenggara BGCI (Botanic Gardens Conservation International) kepada pers menjelaskan bahwa jenis lumut di Indonesia, khususnya yang ada di Cibodas lebih lengkap, karena terdiri dari berbagai macam jenis.
Disamping itu, karena berada di daerah tropis yang dikelilingi gunung, membuat kondisinya tetap lembab, dan itu berbeda dengan taman lumut lainnya di sejumlah negara, seperti Jerman, Singapura dan Jepang yang ditempatkan di dalam rumah kaca.
Peresmian taman lumut yang bersamaan dengan HUT KRC ke- 154 itu juga ditandai dengan peluncurkan mascot KRC yakni “Buku Koleksi Lumut” dan “Anggrek koleksi KRC”

Request artikel boleh kirim via emai atau komentar.

Semoga Bermanfaat :)

Komentar kamu sangat berharga bagi kami

Just share, Berbagi :)