“Jangan dekat-dekat dia, bisa-bisa kamu jadi ikutan miring,” ujar Donny.

“Siapa namanya?” Tanyaku penasaran.

“Kata anak-anak yang lain sih panggilannya N. Sejak dipungut dari jalan dua hari yang lalu, aku belum pernah lihat dia bicara, kukira dia bisu.” Begitulah kami membicarakan seorang gadis yang sedang duduk murung di ayunan taman panti, umurnya mungkin cuma beda setahun lebih muda dengan umurku dan Donny. Gadis itu memiliki mata yang lebar yang kulihat dari cela-cela rambut yang menutupi seluruh wajahnya. Tatapannya kosong, bajunya terlalu besar dengan celana kolor panjang bermotif batik yang juga besar, dia terlihat begitu putus asa, pantas kalau dia dibilang gila.

“Dia ibu temukan di dermaga sedang duduk melamun, ibu tidak tega melihatnya sendirian begitu. Katanya dia tidak mau tinggal di rumahnya,” kata Bu Lidya, pengurus panti asuhan sambil membersihkan meja.

“Jadi dia masih punya rumah, Bu?” Tanya Donny, heran.

“Ia, ibu juga tidak tahu kenapa dia tidak mau tinggal di rumahnya sendiri. Dia terlihat begitu sedih, takut tersinggung. “

“Misterius..” ucapku begitu saja. Gadis itu memang misterius, sangat misterius. Kemisteriusan itu seperti memanggilku untuk mendekatinya, aku begitu tertarik untuk mengetahui kisah di balik sifatnya. Aku sangat penasaran, siapa nama aslinya? Kenapa dia tidak mau tinggal di rumahnya sendiri? Apa yang dilakukannya di dermaga? Seribu pertanyaan menyeruak di kepalaku.

“Aku pulang dulu, Don. Sudah sore.”

“Kenapa tidak menginap di sini saja, Ya?”

“Nanti saja lah, Bu. Temenin ayah di rumah.”

“Oh begitu, ya sudah.”

“Mari, Bu! Don!”

“Hati-hati, Ya!” Seru Donny.

Gadis itu melirikku dingin ketika aku melewatinya, tidak lama. Setelah itu dia kembali menatap jauh ke depan dengan tatapan yang kosong. Rambutnya yang selalu menutup wajahnya sesekali terkibas angin, wajah itu tampak indah meski dingin. Aku merasakan desiran halus saat wajah itu terlihat. Wajah gadis itu masih tampak di mataku walau sudah jauh dari panti, desiran halus itu masih dapat kurasakan. Aku seperti sudah kenal dekat saja dengannya.

*********

“Katanya nemenin ayahmu?” tanya Bu Lidya dari teras begitu aku memasuki gerbang panti membawa tas.

“Ayah sedang ke Bandung sama temannya, Bu. Dari pada sendirian di rumah aku kesini saja”

“Ya sudah, sana makan dulu bareng yang lain! Kamu belum makan malam, kan?”

“Ia, Bu”.

Di ruang itu, semua anak-anak panti asuhan makan bersama kecuali gadis itu, N. Setelah kucari dia kemana-mana ternyata sedang termenung sendirian di atap genting.

 ”Kenapa kau selalu menyendiri? Padahal kalau hati sedang sedih atau gelisah biasanya malah mencari teman untuk curhat.” Gadis itu sama sekali tidak meresponku, dia tetap memandang langit yang gelap dan mendung dengan mata yang kosong.

“Kamu begitu miserius, itu sebabnya aku kemari.” Dia masih saja diam tanpa bereaksi sedikit pun.

Setelah lama kami dalam kabisuan, tiba-tiba gadis itu mengeluarkan suara halus. ”Aku ini gila, kenapa kau mendekatiku?”

“Setiap orang pasti punya kegilaan dan pernah merasa gila. Cuma bagaimana bentuknya saja”, jawabku. “Namaku Arya, kamu?”

“N,… Night.” Jawabnya dingin.

“Night?” Heranku. Namanya Night, malam. Nama yang aneh.

“Apakah sudah menjadi takdir malam selalu gelap?”

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Apakah sudah menjadi takdir malam selalu gelap?” Ulangnya.

“Ya, takdir yang indah.”

“Apakah hidup dan mati kita juga merupakan takdir?”

“Ya. Tuhan berkuasa atas segalanya.”

“Jadi ,apakah kita hanya sebuah mainan?”

Sebuah mainan?

7 Januari 2012

ULINUHA, XII IPA 1

XPRESI A1 Community Member