Category: Karya


Puisi : “Maafkan Aku”

Aku tahu tak mungkin terjadi lagi.
Takkan ada walau sebatas deja vu.

Biar fusi matahari meningkat, walau bulan tertimpa asteroid, entah saat itu mengapa aku membiarkan elektron masuk, meng-elektronegatifkan hasrat memiliki hingga padam tanpa adanya respirasi sel.

Sekali terucap tak tertarik lagi kau kulepas layaknya hidrogen dalam siklus krebs yang kini melayang bebas seperti gas mulia menunggu sesuatu mengikatnya menjadi senyawa.

Mungkin perasaanku tak seluas ordo matriks identitas Sifatku, mengkristal bagai NaOH, membeku, membatu.

Namun biar karang yang tegar melawan abrasi.
Kuakui kini, diriku menyesali.
Entah menunggu atau tak mau menafikan hati.
Aku bagai Leptoptilos javanicus yang kehilangan kaki.
Pincang hati ini jalani hari-hari, lumpuh bayangmumu hiasi pikiran ini dan menyadari, betapa penting hadirmu disisi.

Ku tahu, takkan ada lagi kembali, bahkan sebatas mimpi.
Namun daya-NYA lebih sakti dari tangen 90.

Ku kini berharap pada mimpi dan bayang-bayangmu.
Akankah ada lagi kesempatan tuk memperbaiki semua kesalahanku?
I Love You, Ibu.

Maulana Irvan
Member of Xpresi 1.

Iklan

[Cerpen] “KITA”

“Jangan dekat-dekat dia, bisa-bisa kamu jadi ikutan miring,” ujar Donny.

“Siapa namanya?” Tanyaku penasaran.

“Kata anak-anak yang lain sih panggilannya N. Sejak dipungut dari jalan dua hari yang lalu, aku belum pernah lihat dia bicara, kukira dia bisu.” Begitulah kami membicarakan seorang gadis yang sedang duduk murung di ayunan taman panti, umurnya mungkin cuma beda setahun lebih muda dengan umurku dan Donny. Gadis itu memiliki mata yang lebar yang kulihat dari cela-cela rambut yang menutupi seluruh wajahnya. Tatapannya kosong, bajunya terlalu besar dengan celana kolor panjang bermotif batik yang juga besar, dia terlihat begitu putus asa, pantas kalau dia dibilang gila.

“Dia ibu temukan di dermaga sedang duduk melamun, ibu tidak tega melihatnya sendirian begitu. Katanya dia tidak mau tinggal di rumahnya,” kata Bu Lidya, pengurus panti asuhan sambil membersihkan meja.

“Jadi dia masih punya rumah, Bu?” Tanya Donny, heran.

“Ia, ibu juga tidak tahu kenapa dia tidak mau tinggal di rumahnya sendiri. Dia terlihat begitu sedih, takut tersinggung. “

“Misterius..” ucapku begitu saja. Gadis itu memang misterius, sangat misterius. Kemisteriusan itu seperti memanggilku untuk mendekatinya, aku begitu tertarik untuk mengetahui kisah di balik sifatnya. Aku sangat penasaran, siapa nama aslinya? Kenapa dia tidak mau tinggal di rumahnya sendiri? Apa yang dilakukannya di dermaga? Seribu pertanyaan menyeruak di kepalaku.

“Aku pulang dulu, Don. Sudah sore.”

“Kenapa tidak menginap di sini saja, Ya?”

“Nanti saja lah, Bu. Temenin ayah di rumah.”

“Oh begitu, ya sudah.”

“Mari, Bu! Don!”

“Hati-hati, Ya!” Seru Donny.

Gadis itu melirikku dingin ketika aku melewatinya, tidak lama. Setelah itu dia kembali menatap jauh ke depan dengan tatapan yang kosong. Rambutnya yang selalu menutup wajahnya sesekali terkibas angin, wajah itu tampak indah meski dingin. Aku merasakan desiran halus saat wajah itu terlihat. Wajah gadis itu masih tampak di mataku walau sudah jauh dari panti, desiran halus itu masih dapat kurasakan. Aku seperti sudah kenal dekat saja dengannya.

*********

“Katanya nemenin ayahmu?” tanya Bu Lidya dari teras begitu aku memasuki gerbang panti membawa tas.

“Ayah sedang ke Bandung sama temannya, Bu. Dari pada sendirian di rumah aku kesini saja”

“Ya sudah, sana makan dulu bareng yang lain! Kamu belum makan malam, kan?”

“Ia, Bu”.

Di ruang itu, semua anak-anak panti asuhan makan bersama kecuali gadis itu, N. Setelah kucari dia kemana-mana ternyata sedang termenung sendirian di atap genting.

 ”Kenapa kau selalu menyendiri? Padahal kalau hati sedang sedih atau gelisah biasanya malah mencari teman untuk curhat.” Gadis itu sama sekali tidak meresponku, dia tetap memandang langit yang gelap dan mendung dengan mata yang kosong.

“Kamu begitu miserius, itu sebabnya aku kemari.” Dia masih saja diam tanpa bereaksi sedikit pun.

Setelah lama kami dalam kabisuan, tiba-tiba gadis itu mengeluarkan suara halus. ”Aku ini gila, kenapa kau mendekatiku?”

“Setiap orang pasti punya kegilaan dan pernah merasa gila. Cuma bagaimana bentuknya saja”, jawabku. “Namaku Arya, kamu?”

“N,… Night.” Jawabnya dingin.

“Night?” Heranku. Namanya Night, malam. Nama yang aneh.

“Apakah sudah menjadi takdir malam selalu gelap?”

“Kenapa kau bertanya begitu?”

“Apakah sudah menjadi takdir malam selalu gelap?” Ulangnya.

“Ya, takdir yang indah.”

“Apakah hidup dan mati kita juga merupakan takdir?”

“Ya. Tuhan berkuasa atas segalanya.”

“Jadi ,apakah kita hanya sebuah mainan?”

Sebuah mainan?

7 Januari 2012

ULINUHA, XII IPA 1

XPRESI A1 Community Member


Taksi yang saya tumpangi meluncur mulus di bawah underpass jalan pramuka. Walaupun tergolong taksi tua dengan merek tidak terkenal, namun taksi ini bersih dan memiliki aroma yang tidak menyengat. Pengemudinya setengah baya terlihat seperti lazimnya sopir taksi tembak yang tidak memiliki seragam, dan garis wajahnya menggambarkan kepenatan karena sudah lebih dari 15 jam mengukur panjang jalan ibukota.

Ada yang menarik perhatian saya ketika tiba-tiba sopir taksi tersebut tertawa tertahan. Spontan saya bertanya,”ada apa pak..? ada yang lucu..”. dari tertahan, mendadak bapak sopir taksi tersebut tertawa tergelak-gelak. Saya memandangnya dengan tatapan aneh. Salah makan kali si bapak ini, batin saya dalam hati.namun saya tetap penasaran.

Rasa penasaran saya akhirnya terjawab setelah pak Sopir tersebut, sebut saja namanya Parno (saya lupa persisnya), menceritakan dengan detil pengalamannya 2 malam lalu. Singkat cerita, pak Parno teringat 2 malam lalu sekitar jam 7 malam, taksi beliau melewati jalan yang sama, underpass pramuka menuju jl pemuda. Seperti Anda tahu, underpass tersebut merupakan salah satu biang kerok bottleneck traffic sepanjang jalan itu. Apalagi di jam-jam sibuk seperti malam itu. Pak Parno menceritakan bahwa malam itu hujan turun lumayan deras dan setoran belum terkejar sehingga harus lembur, mungkin sampai tengah malam.

Malang tak dapat ditolak, sampai di tengah underpass, ban kiri depannya bocor. Mau tak mau pak Parno menghentikan taksinya dan mengambil posisi di kiri jalan. Praktis lalu lintas menjadi macet karena jalan hanya menyisakan 1 lajur saja. Pak Parno kemudian mengambil ban serep dari bagasi, kemudian meletakkannya di tengan jalan di belakang kendaraan, sebagai penanda mobil lain untuk pindah jalur. Beliau kemudian mengambil kunci roda dan dongkrak untuk mencopot ban yang bocor tadi. Setelah kurang lebih 10 menit mendongkrak dan mencopot ban depan, pak Parno hendak mengambil ban serep. Apa yang terjadi….. wakwawwww….. ban serepnya hilang diambil orang…..

Bagi sebagian besar orang, hal ini akan menimbulkan kemarahan yang dasyat. Anda bisa bayangnya, setoran belum sampai, makan malampun tidak sempat. Ban bocor, terpaksa harus basah kuyup hujan-hujan mendongkrak mobil, ehhh… ban serep hilang pula, sehingga harus menunggu taksi lain temannya, untuk pinjam ban. Namun pak Parno malah tertawa tergelak-gelak. Saya bertanya apanya dari cerita ini yang lucu. Karena dari berbagai sudut, saya tidak melihat kelucuannya. Pak Parno menjawab,” Mas, saya tuh heran. Kok ada orang yang mau ambil ban sejelek itu”. “Buat apa ya kira-kira… wong saya yang punyanya aja malu. Ternyata apa yang saya tidak suka, ada lho yang mau”.

Luar biasa memang pak parno menghadapi kejadian yang menimpa dirinya. Bagaimana ia memandang suatu kemalangan dalam kacamata humor dan kelucuan. Memang profesinya hanya sopir taksi tembak. Namun sepertinya dalam mengelola hati, gelarnya sudah Doktor.

Komentar kamu sangat berharga bagi kami

Just share, Berbagi :)
sumber


Palu Arit a.k.a Love n Piss

Apakah feminisme itu hanya berkaitan dengan sisi kodrati soarang wanita yang lembut, halus dan gemulai? Mengapa sekarang banyak wanita yang terpengaruh dengan selogan-selogan emansipasi? Bukankah emansipasi hanya menjadikan wanita terlihat hina karena tidak di eklusivkan oleh sosialnya, sementara Tuhan memuliakan wanita lebih dari para pria. Seperti kutipan dari penuis terkenal La Rose yang pernah berdialog dengan kawan-kawannya:

“Saya rasa wanita zaman sekarang mesti mengubah sifat yang terlalu lembut. Dunia makin keras, tak mungkin wanita dengan kelembutan dapat bertahan.” Cukup panjang lebar kami coba mencari definisi tentang ‘kelembutan; wanita. Akhirnya kami sama-sama menyadari, justru tatkala wanita ‘kehilangan kelembutannya’ saat itu ia kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam kehidupannya.

Apabila kita membaca kisah-kisah wanita yang tabah, tegar, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa mereka adalah wanita-wanita yang ‘lembut’. Wanita yang memiliki harga diri karena dia tegar dan tabah, dia tidak kasar dan ankuh. Seakan dia berdiri sendiri terpisah jauh dari sesama wanita lainnya, malah merasa lebih dari sesama manusianya. Hal ini seringkali menimpa wanita yang nampaknya sudah maju dalam karirnya, sudah mandiri, tetapi sesuatu yang paling mendasar dari dalam diri wanita-nya sudah pupus!

Emansipasi sering membuat wanita menjadi tidak menarik lagi, bahkan merugikan kaum wanita. Emansipasi membuat wanita menjadi seperti lelaki.. lelaki yang kasar. Mau tidak mau jika wanita sudah masuk dalam dunia lelaki maka kelembutan mereka berangsur-angsur akan hilang, sifat yang lembut adalah perpaduan antara beberapa sikap hidup, antara lain; pengertian, rasa simpati, murah hati, empati, mau memaafkan, kesabaran , tidak takut menderita, kasih sayang dan masih banyak lagi sikap hidup dan sifat baik lainnya yang membentuk hati dan jiwa wanita.

Seringkali apa yang disebut Feminim hanya diartikan sebagai ciri khas, tetapi sebenarnya ini lebih banyak berkaitan dengan kepribadian yang amat mendasar. Kelembutan bukan keloyoan yang memantulkan sesuatu yang feminim, sebaliknya wanita yang tidak feminim memang kehilangan sesuatu yang amat berharga. Banyak pria yang gembira ketika berteman dengan wanita yang tidak feminim, karena dengan begitu para pria dapat leluasa memperlakukan wanita itu tak ubahnya seperti lelaki. Hal ini banyak sekali terjadi pada wanita karier. Para wanita karier sering merasakan ‘kehampaan’ karena tidak merasakan cinta dari lawan jenisnya.

Wnita yang sudah tidak feminim lagi, tidak segan-segan menantang siapa saja, tak menjadi soal apakah pria atau wanita. Wanita seperti ini berpendapat bahwa ciri khas emansipasi antara lain mereka harus berlawanan dengan lelaki? Inilah masalah yang sering melanda wanita yang merasa amat maju, pintar lalu ia menempatkan dirinya diatas manusia lain!

Ketika logika melawan kuasaNya?

Komentar kamu sangat berharga bagi kami

Just share, Berbagi :)
sumber

Neng, itu bebek tah ayam? 😀

Seusai makan malam, mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara dikejauhan,

“kwek! kwek!”

“Dengar,” kata si istri, “itu pasti suara ayam.”

“Bukan, itu suara bebek,” kata si suami

“Nggak, aku yakin itu ayam,”

“Mustahil!! Suara ayam itu ‘kukuruyuk!’, bebek itu ‘kwek! kwek!’ Itu bebek, sayang,”

“Kwek! Kwek!” Terdengar lagi

“Nah tu! Itu suara bebek,” kata si suami

“Bukan, sayang…
itu ayam! Aku yakin betul !” tandas si istri

“Dengar ya!! itu a..da..lah.. be…bek, B-E-B-E-K, Bebek!! Tau?!”

“Tetapi itu ayam!”

“Itu jelas-jelas bue..bek! Kamu ini…kamu ini…!”

Terdengar lagi suara,”kwek !kwek!”

Sebelum si suami mengatakan sesuatu yg sebaiknya tak dikatakannya, Si istri sudah hampir menangis,
“Tetapi itu ayam…”

Si suami melihat air mata yang mengambang dipelupuk mata istrinya, dan akhirnya teringat kenapa dia menikahinya.

Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, sayang… Kurasa kamu benar, Itu memang suara ayam kok.”

“Terimakasih sayang,” kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“Kwek!kwek”! Terdengar lagi suara dihutan, mengiringi mereka berjalan bersama dlm cinta.

Si suami akhirnya sadar; Siapa sih yang perduli itu ayam atau bebek?

Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.

PESAN MORAL

Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara gara persoalan sepele?

Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam ato bebek”, gak penting banget khan?

Ketika kita memahami cerita tsb, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita.

Adalah berusaha mnyenangkan pasangan jauh lebih penting ketimbang mementingkan diri sendiri dan mencari siapa yang benar ato salah.

Jadi buatlah pasangan Anda bahagia dan merasa nyaman bila hidup bersama Anda selamanya.


sumber

Komentar kamu sangat berharga bagi kami

Just share, berbagi :)

%d blogger menyukai ini: